Sabtu, 02 Oktober 2010

Tanaman kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.)

Tanaman kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.) merupakan tanaman sayuran yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, baik itu kalangan konsumen maupun para petani. Kubis merupakan tanaman sayuran yang sekarang telah banyak diusahakan para petani di pedesaan Indonesia dan telah dijadikan salah satu andalan sumber nafkah para petani untuk meningkatkan taraf hidup (Anonim, 2009a).
Hasil rata-rata produksi kubis di Indonesia tergolong masih rendah, yaitu berkisar 10 -15 ton per ha.  Dibandingkan dengan negara-negara penghasil kubis lainnya seperti Nederland, ± 36 ton per ha dan Amerika Serikat ± 25 ton per ha. Di Provinsi Sulawesi Utara sendiri yang merupakan daerah pertanaman sayuran yang cukup besar di kawasan Indonesia Timur memiliki rata-rata produksi hanya 12 ton per ha (Turang, 2007).  Rendahnya produksi tanaman kubis di Sulawesi Utara selain disebabkan oleh sistem bercocok tanam yang masih bersifat konvensional juga oleh adanya serangan hama terutama hama Plutella xylostella.
Plutella xylostella (Lepidoptera ; Yponomeutidae) yang disebut juga Ngengat Punggung Berlian merupakan jenis hama yang keberadaannya dapat selalu dijumpai disetiap pertanaman kubis.  Sejak tahun 1916 hama ini telah dilaporkan menimbulkan kerusakan pada tanaman kubis di dataran tinggi yaitu pulau Jawa, Bali, Sumatra dan Sulawesi serta daerah penanaman kubis lainnya. Menurut Sembel dkk.,(1994) serangan larva P. xylostella bersama-sama dengan larva Crocidolomia binotalis pada tanaman kubis dapat menurunkan produksi sebesar 79,81 % dimana tingkat kerusakan yang disebabkan oleh P. xylostella mencapai 34,8 %.
Penggunan insektisida yang berlebihan dapat mengakibatkan hama akan menjadi resisten dan timbulnya hama baru.  Selain itu penggunaan insektisida yang tidak tepat waktu akan mengakibatkan terbunuhnya musuh-musuh alami seperti predator dan parasitoid yang dapat menekan populasi hama. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah meningkatnya atau meledaknya populasi hama tanpa harus merugikan lingkungan dan tanpa harus menggunakan pestisida sintetis. Diantaranya penggunaan mikroorganisme sebagai patogen terhadap serangga hama (entomopatogen). Patogen adalah golongan mikroorganisme infeksius yang dapat menyebabkan serangga sakit atau mati.
Bacillus thuringiensis adalah salah satu jenis bakteri yang dapat digunakan sebagai patogen pengendali serangga hama atau bioinsektisida. Beberapa penelitian tentang penggunaan  B. thuringiensis dalam pengendalian serangga hama telah menunjukkan keberhasilan sebagai agen pengendali hayati.  Hal ini seperti yang dilaporkan oleh Salaki (1996) bahwa di Propinsi Sulawesi Utara terdapat isolat lokal B. thuringiensis yang dapat digunakan sebagai agen pengendali hama.
Menurut Turang (2007), B. thuringiensis isolat lokal berpotensi untuk digunakan sebagai salah satu komponen pengendali serangga hama Crocidolomia binotalis pada tanaman kubis. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa B. thuringiensis dapat menyebabkan kematian larva           C. binotalis sampai 84,69 % dengan konsentrasi 108. Melihat keberhasilan penelitian sebelumnya, penggunaan B. thuringiensis isolat lokal dirasa perlu dilakukan penelitian tentang potensi B. thuringiensis isolat lokal sebagai agen pengendali hayati pada serangga hama P. xylostella pada tanaman kubis.
                                                                                                                
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
  1. Apakah B. thuringiensis isolat lokal dapat bersifat toksik terhadap larva       P. xylostella pada tanaman kubis.
  2. Apakah terdapat perbedaan penggunaan B. thuringiensis isolat lokal dengan B. thuringiensis kemasan.
  3. Apakah B. thuringiensis isolat lokal mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai agen pengendali hayati pada hama P. xylostella pada tanaman kubis


C.  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
  1. Mempelajari secara makroskopis gejala-gejala pada hama P. xylostella yang terinfeksi B. thuringiensis isolat lokal.
  2. Melihat perbedaan penggunaan B. thuringiensis isolat lokal dengan              B. thuringiensis kemasan.
  3. Mempelajari pengaruh B. thuringiensis isolat lokal dari habitat Tanah olah, habitat tanah pertanaman Kakao dan habitat tanah pertanaman Pala terhadap mortalitas larva P. xylostella.

D.  Manfaat Penelitian
            Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan B. thuringiensis isolat lokal sebagai agen pengendali hayati pada hama P. xylostella pada tanaman kubis.

1 komentar:

  1. Mantab abis dech infonya... nambah pengetahuan dech :D hehehe

    BalasHapus